SENYUM
TERINDAH
Di
pagi yang cerah seorang gadis kecil beranjak dari tempat tidurnya dan bergegas
untuk mandi . 15 menit berlalu, ia segera mempersiakan semua perlengkapan yang
akan ia bawa ke sekolah .
Hari
ini hari senin, hari dimana sebagian besar anak seusianya mengawali hari-hari
bersama teman-teman sebayanya disekolah setelah segala perlengkapan sudah siap
dan gadis kecil itu telah beranjak dari kursi di ruang makan,, ia pun segera
meminta izin berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk pergi sekolah .
“
Ayah, Ibu, assallamu’allaikum “ sambil mencium tangan ayah ibunya .
“
Wa’allaikumsalam, hati-hati nak “ jawab ibu .
“
Wa’allaikumsalam, hati-hati jangan terlalu cepat dalam mengendarai sepedamu,
Sabrina “ ucap ayah, begitu nama gadis kecil
itu biasa dipanggil .
“
Baik Ayah, Ibu, Sabrina berangkat dulu .
Namun
ia tetap memandang kedua orang tuanya, dan memberikan senyum semangatnya yang
begitu riang kepada ayahnya, begitu pula ayah Sabrina membalasnya .
Setelah berpamitan, Sabrina segera bergegas menaiki
sepedanya, dan mengayuh perlahan-lahan menuju sekolah .
Ditengah-tengah perjalanannya menuju sekolah,
Sabrina bertemu dengan teman-temannya yang juga sama-sama mengendarai sepeda
menuju sekolah . Mereka bersepeda bersama-sama . Dalam perjalanan, Sabrina
menceritakan hal-hal menarik yang ia kerjakan kemarin bersama keluarganya,
terutama ketika ia bercanda tawa dengan ayahnya, yang mungkin masih
teringat-ingat selalu dibayangan Sabrina yang tidak bias membuatnya berhenti
menahan tawa, meskipun ia juga mendapatkan beberapa nasihat dari ayahnya yang
sewaktu-waktu membuatnya terdiam .
Sesampainya
di sekolah, seperti biasa ia selalu menyapa setiap orang yang ia jumpai, tidak
luput Pak Jamil yang pagi itu ia temui di gerbang sekolah .
Sabrina segera memarkirkan sepedanya dan menuju
keruang kelas 7A yang terletak di lantai 2 .
Tteeettttttttttttt………tteeeeeeeeeetttttt……ttttttttteett………
( bel tanda masuk berbunyi )
Beberapa saat, guru pengajar di kelas Sabrina datang
.
Ketua kelas 7A pun segera memimpin teman-teman
kelasnya untuk berdo’a . Setelah berdo’a, pelajaran pun segera dimulai .
Pak
Bambang, begitu Sabrina dan teman-temannya memanggil guru agamanya, memulai
pelajaran dengan membahas tugas minggu lalu .
“
Anak-anak, keluarkan tugas kalian ! “
“
Yaa, Pak ….” jawab siswa-siswi .
“
Ayo,, tugasnya ditukarkan dengan teman belakangnya ..” , “ Kita mulai dari
romawi I “
begitu seterusnya Pak Bambang membahas tugas
agama minggu lalu .
Setelah selesai membahas …
“
Sekarang, kalian baca bab tentang Perjalanan Nabi Muhammad SAW “ ucap Pak
Bambang . “ Nanti, akan kita bahas bersama
bab tersebut, waktu 15 menit dari sekarang
“ lanjutnya .
Tanpa menunggu waktu, akhirnya seluruh siswa 7A
termasuk Sabrina langsung membaca materi yang diperintahkan oleh gurunya .
15
menit berlalu .
Pak
Bambang memulai bab baru dengan memberikan beberapa pertanyaan kepada para
siswanya .
Hampir setengah jumlah siswa 7A bias menjawab
pertanyaan yang diberikan termasuk juga Sabrina .
Akhirnya setelah didapat kesimpulan yang sesuai, maka
para siswa segera mencatat hasil diskusi .
Ketika sedang mencatat, bel tanda istirahat berbunyi
. Seketika Pak Bambang mengakhiri pelajaran agama .
“
Dipelajari dirumah, yaa .. Assallamu’allaikum wr. wb. “
“
Wa’allaikumsalam wr. wb “ jawab para siswa .
Pada
saat jam istirahat, Sabrina tetap berada didalam kelas bersama beberapa
temannya .
Mereka sibuk membbicarakan hal-hal yang membuat
mereka tertawa tebahak-bahak .
Seketika tawa mereka terhenti saat Pak Ilham, wali
kelas 7A dating menuju ke kelas .
Sabrina terkejut dan terheran-heran saat melihat
ekspresi yang ditunjukkan wali kelasnya yang kebingungan . Ditambah lagi ketika
Pak Ilham menyebutkan nama Sabrina .
“
Sabrina !!! “
“
Sabrina ???, yaa Pak, ada apa ?? “ sahut Sabrina dengan nada ketakutan .
“
Segera kemasi barang-barangmu . Lalu ikut Pak Ilham, kamu saya antar pulang “ .
“
Pulang ??? oh..eehmm.. iya Pak “ jawab Sabrina dengan kebingungan segera
mengemasi barang-barangnya .
“
Tapi Pak,, saya bawa sepeda . Saya naik sepeda saya saja Pak “ lanjut Sabrina .
“
Nggak, jangan-jangan . Kamu saya antar saja “ jawab Pak Ilham .
“
Iya, Pak .. “ Sabrina melanjutkan .
Setelah
berkemas, Sabrina langsung mengikuti Pak Ilham menuju ke lantai bawah untuk
segera mengambil motor . Namun, dalam benak Sabrina, ia masih bertanya-tanya
apa yang sebenarnya terjadi . Kebingungannya bertambah ketika perjalanan
kerumah, ia ditanya Pak Ilham yang jawabannya notabene tentang ayahnya, serta
yang mengantarnya pulang tidak hanya Pak Ilham, tetapi bersama juga Pak Yusuf .
Karena
pertanyaan yang dilontarkan Pak Ilham banyak menyangkut tentang ayah Sabrina,
ia berpikir bertanya-tanya dalam benaknya tentang apa yang terjadi dengan
ayahnya .
Kebingungan Sabrina sontak terjawab ketika ia sampai
didepan rumahnya yang telah didirikan tenda hijau beserta keranda didepannya .
Ia pun turun dari motor dengan pandangan yang langsung tertuju pada ruang tamu
rumahnya, yang ternyata diatas tempat tidur sudah terbujur kaku ayah yang telah
sabr dalam membimbingnya sejak ia belum bias berucap ayah, ibu .. hingga
sekarang ia telah mahir dalam bercerita .
Segera ia berjalan menuju ayahnya dan melihat wajah
ayahnya untuk terakhir kalinya .
Sabrina
sangat terpukul atas kepergian ayahnya yang tidak akan kembali lagi
dahadapannya maupun di kehidupannya kelak, tidak ada lagi orang yang akan
membangunkan tidurnya di pagi hari, tidak ada lagi orang yang suka bergurau dan
membuat geli tawa Sabrina, dan tidak akan ada lagi orang seperti ayah yang bias
menggantikan posisi ayah dalam kehidupan Sabrina . Sabrina akhirnya mengerti,
bahwa senyum semangatnya dipagi tadi adalah senyum terakhir, senyum perpisahan
Sabrina kepada ayah untuk selamanya dan sebaliknya . Hati Sabrina sangat sedih,
namun Sabrina tidak bisa meneteskan air mata, karena Sabrina sadar bahwa air
mata Sabrina dapat menghambat kepergian ayahnya . Disatu sisi, Sabrina
tersenyum ketika melihat kepergian terakhir ayahnya dengan wajah tersenyum dan
itulah yang menyadarkan Sabrina agar terus bersemangat meski ayah nanti tidak
bisa menemani Sabrina .
Selamat
jalan ayah, semoga ayah tenang ditempat yang baru, meski tangisku tak pernah
surut jika mengenangmu . Semoga disana ayah mendapatkan kedamaian dan diterima
disisi-Nya . Amin ..
# kehilangan barang mudah tuk didapat, namun
kehilangan orang yang aku sayang sulit untuk didapat #
Tidak ada komentar:
Posting Komentar