Jumat, 10 Februari 2012

SENYUM TERINDAH
            Di pagi yang cerah seorang gadis kecil beranjak dari tempat tidurnya dan bergegas untuk mandi . 15 menit berlalu, ia segera mempersiakan semua perlengkapan yang akan ia bawa ke sekolah .
            Hari ini hari senin, hari dimana sebagian besar anak seusianya mengawali hari-hari bersama teman-teman sebayanya disekolah setelah segala perlengkapan sudah siap dan gadis kecil itu telah beranjak dari kursi di ruang makan,, ia pun segera meminta izin berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk pergi sekolah .
            “ Ayah, Ibu, assallamu’allaikum “ sambil mencium tangan ayah ibunya .
            “ Wa’allaikumsalam, hati-hati nak “ jawab ibu .
            “ Wa’allaikumsalam, hati-hati jangan terlalu cepat dalam mengendarai sepedamu,
   Sabrina “ ucap ayah, begitu nama gadis kecil itu biasa dipanggil .
            “ Baik Ayah, Ibu, Sabrina berangkat dulu .
            Namun ia tetap memandang kedua orang tuanya, dan memberikan senyum semangatnya yang begitu riang kepada ayahnya, begitu pula ayah Sabrina membalasnya .
Setelah berpamitan, Sabrina segera bergegas menaiki sepedanya, dan mengayuh perlahan-lahan menuju sekolah .
Ditengah-tengah perjalanannya menuju sekolah, Sabrina bertemu dengan teman-temannya yang juga sama-sama mengendarai sepeda menuju sekolah . Mereka bersepeda bersama-sama . Dalam perjalanan, Sabrina menceritakan hal-hal menarik yang ia kerjakan kemarin bersama keluarganya, terutama ketika ia bercanda tawa dengan ayahnya, yang mungkin masih teringat-ingat selalu dibayangan Sabrina yang tidak bias membuatnya berhenti menahan tawa, meskipun ia juga mendapatkan beberapa nasihat dari ayahnya yang sewaktu-waktu membuatnya terdiam .
            Sesampainya di sekolah, seperti biasa ia selalu menyapa setiap orang yang ia jumpai, tidak luput Pak Jamil yang pagi itu ia temui di gerbang sekolah .
Sabrina segera memarkirkan sepedanya dan menuju keruang kelas 7A yang terletak di lantai 2 .
 Tteeettttttttttttt………tteeeeeeeeeetttttt……ttttttttteett………
( bel tanda masuk berbunyi )
Beberapa saat, guru pengajar di kelas Sabrina datang .
Ketua kelas 7A pun segera memimpin teman-teman kelasnya untuk berdo’a . Setelah berdo’a, pelajaran pun segera dimulai .
            Pak Bambang, begitu Sabrina dan teman-temannya memanggil guru agamanya, memulai pelajaran dengan membahas tugas minggu lalu .
            “ Anak-anak, keluarkan tugas kalian ! “
            “ Yaa, Pak ….” jawab siswa-siswi .
            “ Ayo,, tugasnya ditukarkan dengan teman belakangnya ..” , “ Kita mulai dari romawi I “
   begitu seterusnya Pak Bambang membahas tugas agama minggu lalu .
Setelah selesai membahas …
            “ Sekarang, kalian baca bab tentang Perjalanan Nabi Muhammad SAW “ ucap Pak
   Bambang . “ Nanti, akan kita bahas bersama bab tersebut, waktu 15 menit dari sekarang
“ lanjutnya .
Tanpa menunggu waktu, akhirnya seluruh siswa 7A termasuk Sabrina langsung membaca materi yang diperintahkan oleh gurunya .
            15 menit berlalu .
            Pak Bambang memulai bab baru dengan memberikan beberapa pertanyaan kepada para siswanya .
Hampir setengah jumlah siswa 7A bias menjawab pertanyaan yang diberikan termasuk juga Sabrina .
Akhirnya setelah didapat kesimpulan yang sesuai, maka para siswa segera mencatat hasil diskusi .
Ketika sedang mencatat, bel tanda istirahat berbunyi . Seketika Pak Bambang mengakhiri pelajaran agama .
            “ Dipelajari dirumah, yaa .. Assallamu’allaikum wr. wb. “
            “ Wa’allaikumsalam wr. wb “ jawab para siswa .
            Pada saat jam istirahat, Sabrina tetap berada didalam kelas bersama beberapa temannya .
Mereka sibuk membbicarakan hal-hal yang membuat mereka tertawa tebahak-bahak .
Seketika tawa mereka terhenti saat Pak Ilham, wali kelas 7A dating menuju ke kelas .
Sabrina terkejut dan terheran-heran saat melihat ekspresi yang ditunjukkan wali kelasnya yang kebingungan . Ditambah lagi ketika Pak Ilham menyebutkan nama Sabrina .
            “ Sabrina !!! “
            “ Sabrina ???, yaa Pak, ada apa ?? “ sahut Sabrina dengan nada ketakutan .
            “ Segera kemasi barang-barangmu . Lalu ikut Pak Ilham, kamu saya antar pulang “ .
            “ Pulang ??? oh..eehmm.. iya Pak “ jawab Sabrina dengan kebingungan segera
   mengemasi barang-barangnya .
            “ Tapi Pak,, saya bawa sepeda . Saya naik sepeda saya saja Pak “ lanjut Sabrina .
            “ Nggak, jangan-jangan . Kamu saya antar saja “ jawab Pak Ilham .
            “ Iya, Pak .. “ Sabrina melanjutkan .
            Setelah berkemas, Sabrina langsung mengikuti Pak Ilham menuju ke lantai bawah untuk segera mengambil motor . Namun, dalam benak Sabrina, ia masih bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi . Kebingungannya bertambah ketika perjalanan kerumah, ia ditanya Pak Ilham yang jawabannya notabene tentang ayahnya, serta yang mengantarnya pulang tidak hanya Pak Ilham, tetapi bersama juga Pak Yusuf .
            Karena pertanyaan yang dilontarkan Pak Ilham banyak menyangkut tentang ayah Sabrina, ia berpikir bertanya-tanya dalam benaknya tentang apa yang terjadi dengan ayahnya .
Kebingungan Sabrina sontak terjawab ketika ia sampai didepan rumahnya yang telah didirikan tenda hijau beserta keranda didepannya . Ia pun turun dari motor dengan pandangan yang langsung tertuju pada ruang tamu rumahnya, yang ternyata diatas tempat tidur sudah terbujur kaku ayah yang telah sabr dalam membimbingnya sejak ia belum bias berucap ayah, ibu .. hingga sekarang ia telah mahir dalam bercerita .
Segera ia berjalan menuju ayahnya dan melihat wajah ayahnya untuk terakhir kalinya .
            Sabrina sangat terpukul atas kepergian ayahnya yang tidak akan kembali lagi dahadapannya maupun di kehidupannya kelak, tidak ada lagi orang yang akan membangunkan tidurnya di pagi hari, tidak ada lagi orang yang suka bergurau dan membuat geli tawa Sabrina, dan tidak akan ada lagi orang seperti ayah yang bias menggantikan posisi ayah dalam kehidupan Sabrina . Sabrina akhirnya mengerti, bahwa senyum semangatnya dipagi tadi adalah senyum terakhir, senyum perpisahan Sabrina kepada ayah untuk selamanya dan sebaliknya . Hati Sabrina sangat sedih, namun Sabrina tidak bisa meneteskan air mata, karena Sabrina sadar bahwa air mata Sabrina dapat menghambat kepergian ayahnya . Disatu sisi, Sabrina tersenyum ketika melihat kepergian terakhir ayahnya dengan wajah tersenyum dan itulah yang menyadarkan Sabrina agar terus bersemangat meski ayah nanti tidak bisa menemani Sabrina .
            Selamat jalan ayah, semoga ayah tenang ditempat yang baru, meski tangisku tak pernah surut jika mengenangmu . Semoga disana ayah mendapatkan kedamaian dan diterima disisi-Nya . Amin ..
# kehilangan barang mudah tuk didapat, namun kehilangan orang yang aku sayang sulit untuk didapat #

Tidak ada komentar:

Posting Komentar