Vidya Gian Permata
sekedar untuk tugas : )
Jumat, 10 Februari 2012
puisi# TAKUT
pertama ketemu kamu aku takut kenalan sama kamu
setelah aku kenal kamu
aku takut minta nomor hape kamu
setelah dapat nomermu aku takut sms kamu
setalah sms,an eh aku takut suka kamu
sekarang aku suka , malah takut ngungkapin ke kamu
padahal yang paling aku takutin selama ini
tuh KEHILANGAN KAMU :)
SENYUM
TERINDAH
Di
pagi yang cerah seorang gadis kecil beranjak dari tempat tidurnya dan bergegas
untuk mandi . 15 menit berlalu, ia segera mempersiakan semua perlengkapan yang
akan ia bawa ke sekolah .
Hari
ini hari senin, hari dimana sebagian besar anak seusianya mengawali hari-hari
bersama teman-teman sebayanya disekolah setelah segala perlengkapan sudah siap
dan gadis kecil itu telah beranjak dari kursi di ruang makan,, ia pun segera
meminta izin berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk pergi sekolah .
“
Ayah, Ibu, assallamu’allaikum “ sambil mencium tangan ayah ibunya .
“
Wa’allaikumsalam, hati-hati nak “ jawab ibu .
“
Wa’allaikumsalam, hati-hati jangan terlalu cepat dalam mengendarai sepedamu,
Sabrina “ ucap ayah, begitu nama gadis kecil
itu biasa dipanggil .
“
Baik Ayah, Ibu, Sabrina berangkat dulu .
Namun
ia tetap memandang kedua orang tuanya, dan memberikan senyum semangatnya yang
begitu riang kepada ayahnya, begitu pula ayah Sabrina membalasnya .
Setelah berpamitan, Sabrina segera bergegas menaiki
sepedanya, dan mengayuh perlahan-lahan menuju sekolah .
Ditengah-tengah perjalanannya menuju sekolah,
Sabrina bertemu dengan teman-temannya yang juga sama-sama mengendarai sepeda
menuju sekolah . Mereka bersepeda bersama-sama . Dalam perjalanan, Sabrina
menceritakan hal-hal menarik yang ia kerjakan kemarin bersama keluarganya,
terutama ketika ia bercanda tawa dengan ayahnya, yang mungkin masih
teringat-ingat selalu dibayangan Sabrina yang tidak bias membuatnya berhenti
menahan tawa, meskipun ia juga mendapatkan beberapa nasihat dari ayahnya yang
sewaktu-waktu membuatnya terdiam .
Sesampainya
di sekolah, seperti biasa ia selalu menyapa setiap orang yang ia jumpai, tidak
luput Pak Jamil yang pagi itu ia temui di gerbang sekolah .
Sabrina segera memarkirkan sepedanya dan menuju
keruang kelas 7A yang terletak di lantai 2 .
Tteeettttttttttttt………tteeeeeeeeeetttttt……ttttttttteett………
( bel tanda masuk berbunyi )
Beberapa saat, guru pengajar di kelas Sabrina datang
.
Ketua kelas 7A pun segera memimpin teman-teman
kelasnya untuk berdo’a . Setelah berdo’a, pelajaran pun segera dimulai .
Pak
Bambang, begitu Sabrina dan teman-temannya memanggil guru agamanya, memulai
pelajaran dengan membahas tugas minggu lalu .
“
Anak-anak, keluarkan tugas kalian ! “
“
Yaa, Pak ….” jawab siswa-siswi .
“
Ayo,, tugasnya ditukarkan dengan teman belakangnya ..” , “ Kita mulai dari
romawi I “
begitu seterusnya Pak Bambang membahas tugas
agama minggu lalu .
Setelah selesai membahas …
“
Sekarang, kalian baca bab tentang Perjalanan Nabi Muhammad SAW “ ucap Pak
Bambang . “ Nanti, akan kita bahas bersama
bab tersebut, waktu 15 menit dari sekarang
“ lanjutnya .
Tanpa menunggu waktu, akhirnya seluruh siswa 7A
termasuk Sabrina langsung membaca materi yang diperintahkan oleh gurunya .
15
menit berlalu .
Pak
Bambang memulai bab baru dengan memberikan beberapa pertanyaan kepada para
siswanya .
Hampir setengah jumlah siswa 7A bias menjawab
pertanyaan yang diberikan termasuk juga Sabrina .
Akhirnya setelah didapat kesimpulan yang sesuai, maka
para siswa segera mencatat hasil diskusi .
Ketika sedang mencatat, bel tanda istirahat berbunyi
. Seketika Pak Bambang mengakhiri pelajaran agama .
“
Dipelajari dirumah, yaa .. Assallamu’allaikum wr. wb. “
“
Wa’allaikumsalam wr. wb “ jawab para siswa .
Pada
saat jam istirahat, Sabrina tetap berada didalam kelas bersama beberapa
temannya .
Mereka sibuk membbicarakan hal-hal yang membuat
mereka tertawa tebahak-bahak .
Seketika tawa mereka terhenti saat Pak Ilham, wali
kelas 7A dating menuju ke kelas .
Sabrina terkejut dan terheran-heran saat melihat
ekspresi yang ditunjukkan wali kelasnya yang kebingungan . Ditambah lagi ketika
Pak Ilham menyebutkan nama Sabrina .
“
Sabrina !!! “
“
Sabrina ???, yaa Pak, ada apa ?? “ sahut Sabrina dengan nada ketakutan .
“
Segera kemasi barang-barangmu . Lalu ikut Pak Ilham, kamu saya antar pulang “ .
“
Pulang ??? oh..eehmm.. iya Pak “ jawab Sabrina dengan kebingungan segera
mengemasi barang-barangnya .
“
Tapi Pak,, saya bawa sepeda . Saya naik sepeda saya saja Pak “ lanjut Sabrina .
“
Nggak, jangan-jangan . Kamu saya antar saja “ jawab Pak Ilham .
“
Iya, Pak .. “ Sabrina melanjutkan .
Setelah
berkemas, Sabrina langsung mengikuti Pak Ilham menuju ke lantai bawah untuk
segera mengambil motor . Namun, dalam benak Sabrina, ia masih bertanya-tanya
apa yang sebenarnya terjadi . Kebingungannya bertambah ketika perjalanan
kerumah, ia ditanya Pak Ilham yang jawabannya notabene tentang ayahnya, serta
yang mengantarnya pulang tidak hanya Pak Ilham, tetapi bersama juga Pak Yusuf .
Karena
pertanyaan yang dilontarkan Pak Ilham banyak menyangkut tentang ayah Sabrina,
ia berpikir bertanya-tanya dalam benaknya tentang apa yang terjadi dengan
ayahnya .
Kebingungan Sabrina sontak terjawab ketika ia sampai
didepan rumahnya yang telah didirikan tenda hijau beserta keranda didepannya .
Ia pun turun dari motor dengan pandangan yang langsung tertuju pada ruang tamu
rumahnya, yang ternyata diatas tempat tidur sudah terbujur kaku ayah yang telah
sabr dalam membimbingnya sejak ia belum bias berucap ayah, ibu .. hingga
sekarang ia telah mahir dalam bercerita .
Segera ia berjalan menuju ayahnya dan melihat wajah
ayahnya untuk terakhir kalinya .
Sabrina
sangat terpukul atas kepergian ayahnya yang tidak akan kembali lagi
dahadapannya maupun di kehidupannya kelak, tidak ada lagi orang yang akan
membangunkan tidurnya di pagi hari, tidak ada lagi orang yang suka bergurau dan
membuat geli tawa Sabrina, dan tidak akan ada lagi orang seperti ayah yang bias
menggantikan posisi ayah dalam kehidupan Sabrina . Sabrina akhirnya mengerti,
bahwa senyum semangatnya dipagi tadi adalah senyum terakhir, senyum perpisahan
Sabrina kepada ayah untuk selamanya dan sebaliknya . Hati Sabrina sangat sedih,
namun Sabrina tidak bisa meneteskan air mata, karena Sabrina sadar bahwa air
mata Sabrina dapat menghambat kepergian ayahnya . Disatu sisi, Sabrina
tersenyum ketika melihat kepergian terakhir ayahnya dengan wajah tersenyum dan
itulah yang menyadarkan Sabrina agar terus bersemangat meski ayah nanti tidak
bisa menemani Sabrina .
Selamat
jalan ayah, semoga ayah tenang ditempat yang baru, meski tangisku tak pernah
surut jika mengenangmu . Semoga disana ayah mendapatkan kedamaian dan diterima
disisi-Nya . Amin ..
# kehilangan barang mudah tuk didapat, namun
kehilangan orang yang aku sayang sulit untuk didapat #
Rabu, 08 Februari 2012
puisi III# SAHABAT
kadang aku heran melihat tigkah anehmu .
kadang aku juga malas mendengar curhatanmu .
kadang aku sedikit membenci mu .
tapi engkau selalu memberi semangat ku .
engkau selalu berada di sisiku saat ku butuhkanmu .
ohh .. sahabatku
kadang aku juga malas mendengar curhatanmu .
kadang aku sedikit membenci mu .
tapi engkau selalu memberi semangat ku .
engkau selalu berada di sisiku saat ku butuhkanmu .
ohh .. sahabatku
SAAT KU BERSAMA DIA -___-
tiiit...tiitt 1 sms diterima , aku liat ! " ini vidya kan ? " kata sms dari siapa gak jelas
mungkin salahh satu dari penggemar aku yah , hahaha kata batinku tertawa . tak sangka itu sms dari kakak osis kelas 3 nama si A ( RAHASIA) . Keliatannya aku ngerasa anak ini mau deketin aku -,- sms nya mulai perhatian gitu ! dapat 2 minggu eh si A udah berani mau maen kerumah aslinya aku malu kalu mau disamperin dia ! greeeeng ... suara sepeda di depan rumahku bergegas aku mengintip kecendela rumah !
astagggaaa : 0 ternyata dia udah di depan rumah , yaudah dengan rasa malu aku nyamperin dia .
bercanda canda aku sama dia saat itu , iih saat aku ditinggal pulang ngerasa cepet banget jamnya padahal udah 3 jam loh dia duduk di kursi rumah -,-
ahhh , waktu berangkat sekolah udah tiba bisa ketemu dia disana ye ye ye dengan semangatnya aku berangkat ! teng teng teng bunyi bel masuk berbunyi , masuklah aku ke kelas eh ternyata kelasnya dempetan sama dia , "aduh malu banget rasannya gak pede " kata batin ku ! 5 jam pun udah kujalani disekolah dan aku mau pulang deh -,- tiiiiiiit tiiiiiiit 1 sms diterima ' aku anter yuk pulngnya ! ' isi sms dari si A woow : D kebetulan banget uang ku tinggal dikit ! greeeng greeeeeng .... datanglah dia udah disampingku ! dan udah kenal sama dia hampir 4 minggu , dan pada tanggal 11 , 11 , 2011 dia nembak aku aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhh , kata batin aku : D yah aku terima dengan senang dan aku jalani dangan tulus hati :*
3 minggu aku berjalan dengan dia , aku baru tau selama ini dia punya mantan dan mantannya baru sama dia saat bulan oktober berarti gak lama dari itu aku udah jadian -,- , huh aku nyesel kenapa aku baru tau saat aku jadian sama dia . emm aku pengen banget kenal sama mantannya itu aku add deh FB nya : ) moga dengan cara ini aku bisa berteman baik soalnya aku selalu ngamatin mantannya cantiik banget berkrudung lagi , dan ternyata dugaan ku salah facebook ku gak di konfrim konfrim dari dulu aku padahal udah aku pesan 2 kali :( ya awohh aku salah apa ke mantannya membuat hati aku marah semarah mungkin dan kemarahan ku tak keluarkan di status FB ku gak peduli siapa yang mau liat -,-
iihh aku kok di liatin ya sama kakak kelas 3 -,- pagi itu saat baru sekolah habis libur tahun baru '' eh eh kamu tau anak itu loo '' denger kata kata itu dari telinga ku sendiri aku lirik orang yang bicarain aku ! dengan amarah aku jalan ke kelasku , gruduk gruduk gruduk hentakan kaki dari sekelompok kakak kelas dan berkata '' mana yang namanya vidia '' aku sahut '' aku mbak '' tangan ku diseret ke arah kelas 3 . Hanya aku yang kelas 1 dan mereka sebanyak itu mengrebuk aku ! rasa tegang pasti ada yang aku rasa penuh dengan cacimaki pertanyaan gak jelas itu ! sesudah labrak'an itu nama aku banyak di bicarakan di sekolahku -,-
aku cumak sabar dan menahan emosi di setipa waktu '' sayang maafkan aku yah gara gara kamu jadian sama aku kamu jadi gini '' ungkap cowok ku dan meluk aku ! tetesan air mata ku dikit keluar terharu aja denger cowok ku bilang gitu
siapa gitu yang gak kenal sama aku ini -.- aku famous gara gra masalah itu . Aku gak mau famous jelek tapi famous dengan kebaikan ku : ( DI SINDIRLAH DI PLIRIK I LAH bodo amat aku gak salah dengan perbuatanku , mereka yang salah mengganggap aku yang merusak hubungan mantannya itu dan cowokku -,-
1 bulan terlewati hampir ada teman kelas 3 yang aku percaya dan mereka tau siapa yang salah dan siapa yang benar :) aku bersyukur dengan kesabaranku ini aku bisa tahan sekolah di sekolhaku dengan keadaan kakak kelas yang ketus ketus ke aku . TAPI SEMAKIN BANYAK COBA'AN SEMAKIN SAYANG AJA AKU KE DIA DAN DIA KE AKU :)
mungkin salahh satu dari penggemar aku yah , hahaha kata batinku tertawa . tak sangka itu sms dari kakak osis kelas 3 nama si A ( RAHASIA) . Keliatannya aku ngerasa anak ini mau deketin aku -,- sms nya mulai perhatian gitu ! dapat 2 minggu eh si A udah berani mau maen kerumah aslinya aku malu kalu mau disamperin dia ! greeeeng ... suara sepeda di depan rumahku bergegas aku mengintip kecendela rumah !
astagggaaa : 0 ternyata dia udah di depan rumah , yaudah dengan rasa malu aku nyamperin dia .
bercanda canda aku sama dia saat itu , iih saat aku ditinggal pulang ngerasa cepet banget jamnya padahal udah 3 jam loh dia duduk di kursi rumah -,-
ahhh , waktu berangkat sekolah udah tiba bisa ketemu dia disana ye ye ye dengan semangatnya aku berangkat ! teng teng teng bunyi bel masuk berbunyi , masuklah aku ke kelas eh ternyata kelasnya dempetan sama dia , "aduh malu banget rasannya gak pede " kata batin ku ! 5 jam pun udah kujalani disekolah dan aku mau pulang deh -,- tiiiiiiit tiiiiiiit 1 sms diterima ' aku anter yuk pulngnya ! ' isi sms dari si A woow : D kebetulan banget uang ku tinggal dikit ! greeeng greeeeeng .... datanglah dia udah disampingku ! dan udah kenal sama dia hampir 4 minggu , dan pada tanggal 11 , 11 , 2011 dia nembak aku aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhh , kata batin aku : D yah aku terima dengan senang dan aku jalani dangan tulus hati :*
3 minggu aku berjalan dengan dia , aku baru tau selama ini dia punya mantan dan mantannya baru sama dia saat bulan oktober berarti gak lama dari itu aku udah jadian -,- , huh aku nyesel kenapa aku baru tau saat aku jadian sama dia . emm aku pengen banget kenal sama mantannya itu aku add deh FB nya : ) moga dengan cara ini aku bisa berteman baik soalnya aku selalu ngamatin mantannya cantiik banget berkrudung lagi , dan ternyata dugaan ku salah facebook ku gak di konfrim konfrim dari dulu aku padahal udah aku pesan 2 kali :( ya awohh aku salah apa ke mantannya membuat hati aku marah semarah mungkin dan kemarahan ku tak keluarkan di status FB ku gak peduli siapa yang mau liat -,-
iihh aku kok di liatin ya sama kakak kelas 3 -,- pagi itu saat baru sekolah habis libur tahun baru '' eh eh kamu tau anak itu loo '' denger kata kata itu dari telinga ku sendiri aku lirik orang yang bicarain aku ! dengan amarah aku jalan ke kelasku , gruduk gruduk gruduk hentakan kaki dari sekelompok kakak kelas dan berkata '' mana yang namanya vidia '' aku sahut '' aku mbak '' tangan ku diseret ke arah kelas 3 . Hanya aku yang kelas 1 dan mereka sebanyak itu mengrebuk aku ! rasa tegang pasti ada yang aku rasa penuh dengan cacimaki pertanyaan gak jelas itu ! sesudah labrak'an itu nama aku banyak di bicarakan di sekolahku -,-
aku cumak sabar dan menahan emosi di setipa waktu '' sayang maafkan aku yah gara gara kamu jadian sama aku kamu jadi gini '' ungkap cowok ku dan meluk aku ! tetesan air mata ku dikit keluar terharu aja denger cowok ku bilang gitu
siapa gitu yang gak kenal sama aku ini -.- aku famous gara gra masalah itu . Aku gak mau famous jelek tapi famous dengan kebaikan ku : ( DI SINDIRLAH DI PLIRIK I LAH bodo amat aku gak salah dengan perbuatanku , mereka yang salah mengganggap aku yang merusak hubungan mantannya itu dan cowokku -,-
1 bulan terlewati hampir ada teman kelas 3 yang aku percaya dan mereka tau siapa yang salah dan siapa yang benar :) aku bersyukur dengan kesabaranku ini aku bisa tahan sekolah di sekolhaku dengan keadaan kakak kelas yang ketus ketus ke aku . TAPI SEMAKIN BANYAK COBA'AN SEMAKIN SAYANG AJA AKU KE DIA DAN DIA KE AKU :)
Jumat, 03 Februari 2012
puisi II# KEMBALI
Berharap untuk kembali sepi sendiri lagi karna kau telah pergi ...
dari hati yang sunyi impianku berhenti ..
sejenak tak berarti walaupun peri ..
ku tersenyum pahit dihati ..
sampai kapan ku nanti senyumku kembali ..
tanpamu tag lagi ku berharap ..
berharap berangan lagi ..
tak bisa kurasa lagi ...
pelukmu disini tak kan terulang kembali ..
hati mu ..
hati ku ..
satuu..
dari hati yang sunyi impianku berhenti ..
sejenak tak berarti walaupun peri ..
ku tersenyum pahit dihati ..
sampai kapan ku nanti senyumku kembali ..
tanpamu tag lagi ku berharap ..
berharap berangan lagi ..
tak bisa kurasa lagi ...
pelukmu disini tak kan terulang kembali ..
hati mu ..
hati ku ..
satuu..
Kamis, 08 Desember 2011
Arti Sebuah Persahabatan
Pria itu mulai berjalan mendekati. Bunyi derap langkahnya menggema di seluruh gedung sekolah yang tua ini. Dari mimiknya, terpancar betapa besar kemarahannya. Tanpa banyak bicara, dia menyeret keempat pemuda yang berada di hadapannya menuju ke ruang BK. Pak Haryono orangnya memang seperti itu, bisa dibilang dia adalah satu-satunya guru Fisika yang tidak banyak bicara, tetapi sangat tegas dalam memberi sanksi bagi para murid yang menentangnya.
Setelah menyeret keempat anak itu, Pak Haryono langsung meninggalkan ruang BK. Keempat anak itu menghela napas, di hadapan mereka kini ada seorang wanita separuh baya yang baik hati. Dia adalah Ibu Ratna, guru BK mereka.
“Ya ampun! Ibu sudah tidak tahu harus ngomong apa lagi sama kalian. Ini sudah yang kesembilan kalinya kalian berkeliaran ketika jam pelajaran,” tutur Bu Ratna.
“Iya Bu, soalnya kan tanggung kalau sembilan kali, satu kali lagi jadi sepuluh kali. Kan Ibu juga bilang kalau kita mau melakukan sesuatu jangan tanggung-tanggung, harus dilakukan sampai selesai,” Boni, salah satu dari keempat anak itu angkat bicara. Ketiga temannya menganguk-angguk tanda setuju dengan apa yang dikatakan Boni.
Setelah dinasihati selama kurang lebih setengah jam, akhirnya Boni bersama ketiga temannya, Randy, Imam, dan Deden pergi meninggalkan ruang BK menuju ke kantin. Kantin di sekolah mereka memang tidak besar dan tidak begitu bagus, tetapi cukup bersih dan makanan yang disediakan Ibu kantin adalah makanan yang sehat dan bergizi tinggi. Kantin ini memang sudah menjadi rumah ke-2 bagi mereka berempat.
“Tadi saya kaget banget loh waktu Pak Haryono datang, terus nyeret kita seperti itu,” kata Imam.
“Ah, kalo gue sih gak kaget waktu Pak Haryono datang, itu sih udah biasa! Tapi yang gue kesel, kenapa kita harus diseret-seret kayak gitu sih? Image gue di depan cewek-cewek jadi jelek!” ucap Randy sambil merapikan rambutnya.
“Dasar borokokok, kamu mah masih aja mikirin cewek, saya aja gak punya cewek, tapi hepi-hepi aja,” timpal Deden dengan logat Sunda yang kental.
“Udah-udah! Gak usah didebatin lagi! Ngomong-ngomong, gimana kalo malam minggu ini, kita nginep di vila gue yang di puncak?”
“Duh, sorry ya Bon. Malam Minggu ini gue udah ada janji sama si Linda”, ucap Randy.
“Dasar emang maneh mah borokokok! Tong mikirkeun awewe wae atuh. Tadi si Linda udah bilang, malam Minggu nanti dia nggak bisa dateng. Jadi gak ada alasan kamu gak bisa ikut!”
♫♫♫
“Brrr….. dingin banget sih disini?”
“Nih, kopi buat lu. Di puncak kan emang dingin. Anak kecil aja tau, masa kamu enggak tau?”
“Iya, gue tau puncak tuh dingin, tapi biasanya kan gak sedingin ini. Tau gini mendingan gue nyari cewek di Bandung, daripada di sini, cewek gak ada, yang ada malahan kuntilanak. Eh, Bon ngomong-ngomong si Imam sama si Deden kemana sih?”
“Mereka lagi nyari makanan. Lu dari tadi belum makan kan? Gue juga belum makan nih, laper banget!”
“Iya, gue juga laper nih! Bon, ngapain sih lu akhir-akhir ini jadi sering kesini?”
“Gue nggak betah di rumah.” Jawab Boni singkat.
Kedua anak itu terdiam. Vila Boni yang sangat besar itu hening seketika. Hanya terdengar suara kobaran api di perapian. Boni bejalan ke arah foto keluarganya yang terpajang di dinding. Boni memperhatikan foto yang diambil tiga tahun lalu itu.
“Keluarga gue udah nggak seharmonis dulu lagi. Sejak nyokap gue meninggal dua tahun yang lalu, bokap gue gak pernah tidur di rumah lagi. Kalaupun pulang cuman buat ngasih gue duit buat SPP dan uang saku doang. Tapi Ran, gue tuh nggak butuh duit banyak, yang gue butuhin, kehangatan keluarga gue yang dulu. Adik gue juga akhir-akhir ini suka keluyuran gak tau kemana.” tutur Boni sambil memandangi foto itu.
“Adik lu kan masih SMP, cewek lagi. Lu gak takut dia kenapa-napa?” tanya Randy.
“Peduli amat! Dia maunya kayak gitu, ngapain gue larang?”
Randy menghela napas, dalam hati dia merasa kasihan kepada Boni. Kini Boni sudah kehilangan kehangatan keluarganya. Randy bersyukur keluarganya masih tetap harmonis sampai sekarang. Sayup-sayup dari luar terdengar suara deruman mobil.
“Eh, tuh mereka udah datang. Kebetulan gue udah laper banget nih,” Randy mengalihkan pembicaraan.
♫♫♫
Minggu sore Boni pulang ke rumahnya. Di garasi dia melihat mobil ayahnya terparkir disana. Boni tak peduli dan langsung masuk ke rumah.
“Darimana saja kamu?” tanya ayahnya.
“Apa peduli ayah? Biasanya Boni tidak pulang selama seminggu juga Ayah tak peduli.”
“Dasar anak durhaka! Sopan sedikit di depan ibu barumu!”
“Ibuku satu-satunya sudah meninggal!”
Boni agak kaget mendengar ucapan ayahnya itu. Di samping ayahnya ada seorang wanita cantik berusia 30-an. Rupanya selama ini ayah tinggal di rumah wanita ini. Boni langsung pergi lagi mengendarai mobilnya dengan kencang seperti orang kesetanan. Dia tak tahu akan kemana, pikirannya sedang kacau.
♫♫♫
Hampir dua bulan lamanya, Boni menyendiri. Di sekolah dia malas untuk berkomunikasi dengan orang lain, bahkan dengan sahabatnya sekalipun. Boni lebih memilih menghindari tatap muka dengan sahabatnya. Rupanya kehadiran ibu baru di keluarganya, membuatnya sangat terpukul. Setiap hari Boni pulang larut malam. Entah apa yang dilakukannya hingga larut malam. Ayahnya sangat marah atas kelakuan Boni selama ini.
“Boni! Sudah Ayah peringatkan, jangan pulang larut malam. Kamu ini masih anak SMA, nanti apa kata orang, melihat anak SMA keluyuran malam-malam begini,” ucap ayah Boni.
“Apa kata orang?!? Ayah masih mejaga gengsi ayah tanpa memperhatikan anaknya sendiri? Coba Ayah berkaca! Ayah macam apa yang meninggalkan anak-anaknya tanpa memperhatikan mereka selama dua tahun?”
“Dasar anak kurang ajar!” bentak ayah Boni sambil menampar Boni.
“Sudah Mas, sudah…….!” cegah Lastri, ibu tiri Boni.
“Kalau Ayah mau tampar Boni lagi, tampar aja Yah….. tampar aja anakmu tak pernah kau perhatikan ini!” Boni larut dalam emosi yang selama ini berusaha ia tahan.
“Pergi kamu, PERGI!!!!” bentak ayahnya lagi.
“Oke, kalau memang itu mau Ayah,” kata Boni sambil berjalan meninggalkan rumahnya.
♫♫♫
Boni duduk termenung sendiri di kantin sekolah. Masakan buatan Ibu kantin yang dulu paling disukainya, tidak dimakannya sama sekali. Seminggu yang lalu di pinggir jalan, Boni melihat Deden, sahabatnya sedang asyik nongkrong dengan anak-anak berandalan. Sahabatnya itu tampak sangat kurus. Boni heran, sejak kapan Deden bergaul dengan anak-anak nerandalan itu? Tapi Boni tak mau ambil pusing memikirkan itu. Tanpa Boni sadari, ada seorang pria yang mendekatinya.
“Kok melamun aja? Nggak dimakan tuh makanannya?” sapa pria itu.
“Eh….oh, ya….” Boni tersadar dari lamunannya dan kaget melihat pria di sampingnya adalah Pak Haryono, guru Fisikanya yang terkenal tidak banyak bicara.
“Bapak bisa menebak dari raut mukamu, kalau saat ini kamu sedang banyak pikiran. Bapak lihat akhir-akhir ini kamu dengan teman-temanmu tidak pernah bersama-sama lagi.”
“Sebenarnya sih begitu, Pak”
“Mau kau ceritakan masalahmu ke Bapak? Siapa tau Bapak bisa membantumu memecahkannya,” Pak Haryono menawarkan diri untuk menjadi tempat curhat Boni.
Boni pun mulai menceritakan masalahnya kepada Pak Haryono. Dari awal sampai akhir, tanpa ada yang terlewat sedikitpun. Entah mengapa, ketika Boni bercerita tentang masalahnya dia merasa sangat lega. Pak Haryono pun mendengarkan cerita Boni dengan seksama. Ternyata Pak Haryono sangat perhatian terhadap murid-muridnya.
“Begitulah, Pak. Masalah saya terlalu memusingkan bagi saya, sehingga selama ini saya lebih memilih menyendiri daripada berkumpul dengan teman-teman,” Boni mengakhiri ceritanya.
“Sikapmu yang lari dari masalah itu, menurut Bapak salah. Seharusnya kamu menyelesaikannya, bukan menghindarinya. Kamu juga jangan sampai mengorbankan persahabatanmu karena persoalan ini. Karena hanya sahabatmulah yang mengerti kamu dan pasti membantu kamu keluar dari persoalan yang kamu hadapi. Sekarang, coba kamu benahi kehidupanmu, apa salahnya kamu menerima ibu tirimu itu, siapa tahu dengan begitu kehangatan keluargamu kembali seperti dulu lagi,” tutur Pak Haryono dengan bijaksana.
“Terima kasih, Pak! Saya permisi dulu,” dalam seketika semangat Boni muncul lagi. Setelah ini dia berencana meminta maaf kepada ayahnya dan ibu tirinya. Dia juga tak sabar ingin berkumpul lagi dengan teman-temannya.
Kebetulan Boni bertemu dengan Imam, sahabat yang lama tidak ia temui. Tetapi aneh, Imam tampak terburu-buru dengan kepanikan terpancar di wajahnya.
“Hei, Mam! Apa kabar? Ngapain sih lu buru-buru amat?” sapa Boni.
“Bon, Nggak ada waktu buat basa-basi. Cepet ke rumah sakit! Deden lagi dalam keadaan koma!”
Jantung Boni berdegup kencang, dia langsung mengendarai mobilnya menuju ke rumah sakit tempat Deden dirawat.
♫♫♫
Dalam hati, Boni bertanya-tanya, ada apa sebenarnya? Ayah, Ibu, serta keluarga Deden dari Garut datang. Isak tangis terdengar dimana-mana.
“Mam, kasih tau gue yang sebenernya. Ada apa sih? Deden masih hidup kan? Jawab gue! Deden masih hidup, kan?” Boni memaksa Imam mengatakan bagaimana keadaan Deden saat ini.
“Bon……, Deden……mengidap HIV/AIDS…….. Deden masih dalam keadaan koma,” jawab Imam pelan.
“Mam, jangan bohong ke gue. Itu nggak bener kan? Seminggu yang lalu gue masih ngeliat dia lagi nongkrong sama……” Boni terdiam.
“…….Sama anak-anak berandalan itu kan? Mereka itulah yang ngejerumusin Deden jadi “pemakai”. Deden kena HIV/AIDS gara-gara jarum suntik yang mereka pakai bergantian”
“Ini semua gara-gara gue. Coba kalau gue nggak menghindari kalian, sekarang kita pasti masih bisa kumpul-kumpul kayak dulu lagi,” sesal Boni.
“Udah Bon, nggak usah nyalahin diri sendiri. Mungkin ini memang sudah kehendak Yang Maha Kuasa.”
Seorang suster menghampiri kami dan mengatakan bahwa Deden ingin bertemu kami menjelang akhir hidupnya. Kami berjalan memasuki ruang tempat Deden dirawat.
Tubuh Deden kurus sekali digerogoti penyakit yang dideritanya. Di sebelah Deden, ibunya menemaninya sambil menahan tangis.
“Bon…..Mam…. Saya seneng kita semua bisa kumpul lagi kayak dulu lagi. Oh, ya,mana si Randy?” sapa Deden dengan lemas.
“Tadi udah saya telepon Si Randy tadi masih di jalan ke sini,” kata Imam.
“Eh, sorry telat, tadi macet di jalan. Rumah si Linda jauh sih dari sini!” Randy datang dengan napas tersengal-sengal.
“Dasar borokokok….. kamu mah masih aja mikirin awewe,” timpal Deden dengan suara pelan.
Mereka semua saling berpegangan tangan, tanpa terasa air mata mereka mengalir. Rasa haru bercampur dengan duka. Persahabatan yang mereka jalin selama ini takkan pernah mereka lupakan.
“Saya pengen persahabatan kita terus berjalan walaupun saya duluan ninggalin kalian semua menghadap Allah SWT. Kalau persahabatan kita putus, saya nggak bakal maafin kalian,” ucap Deden dengan air mata yang terusmengalir.
“Iya, Den kita nggak akan memutuskan persahabatan kita, tapi lo jangan ngomong gitu dong, lu harus optimis, lu masih bisa sembuh!” ucap Boni sambil mengusap air matanya.
“Udah gak bisa Bon. Saya udah gak tahan lagi ngerasain sakit ini. Gimana?!? Friends Forever?”
“FRIENDS FOREVER!” ucap tiga sahabatnya bersamaan.
“Allahu akbar…… Allahu akbar……….HHhhhhhh……..” Deden meninggalkan dunia ini, menghadap Allah SWT.
“Innalillahi wa innailaihi raji’un.”
Tangan Deden yang sedang digenggam teman-temannya terasa semakin dingin. Deden meninggal dengan tenang. Isak tangis terdengar di mana-mana. Tiga sahabatnya sangat kehilangan salah satu sahabat terbaik mereka.Mereka semua mencoba memahami apakah arti dari sebuah persahabatan. Selalu bersama baik dalam suka maupun duka hingga ajal menjemput.
-The End-
Pria itu mulai berjalan mendekati. Bunyi derap langkahnya menggema di seluruh gedung sekolah yang tua ini. Dari mimiknya, terpancar betapa besar kemarahannya. Tanpa banyak bicara, dia menyeret keempat pemuda yang berada di hadapannya menuju ke ruang BK. Pak Haryono orangnya memang seperti itu, bisa dibilang dia adalah satu-satunya guru Fisika yang tidak banyak bicara, tetapi sangat tegas dalam memberi sanksi bagi para murid yang menentangnya.
Setelah menyeret keempat anak itu, Pak Haryono langsung meninggalkan ruang BK. Keempat anak itu menghela napas, di hadapan mereka kini ada seorang wanita separuh baya yang baik hati. Dia adalah Ibu Ratna, guru BK mereka.
“Ya ampun! Ibu sudah tidak tahu harus ngomong apa lagi sama kalian. Ini sudah yang kesembilan kalinya kalian berkeliaran ketika jam pelajaran,” tutur Bu Ratna.
“Iya Bu, soalnya kan tanggung kalau sembilan kali, satu kali lagi jadi sepuluh kali. Kan Ibu juga bilang kalau kita mau melakukan sesuatu jangan tanggung-tanggung, harus dilakukan sampai selesai,” Boni, salah satu dari keempat anak itu angkat bicara. Ketiga temannya menganguk-angguk tanda setuju dengan apa yang dikatakan Boni.
Setelah dinasihati selama kurang lebih setengah jam, akhirnya Boni bersama ketiga temannya, Randy, Imam, dan Deden pergi meninggalkan ruang BK menuju ke kantin. Kantin di sekolah mereka memang tidak besar dan tidak begitu bagus, tetapi cukup bersih dan makanan yang disediakan Ibu kantin adalah makanan yang sehat dan bergizi tinggi. Kantin ini memang sudah menjadi rumah ke-2 bagi mereka berempat.
“Tadi saya kaget banget loh waktu Pak Haryono datang, terus nyeret kita seperti itu,” kata Imam.
“Ah, kalo gue sih gak kaget waktu Pak Haryono datang, itu sih udah biasa! Tapi yang gue kesel, kenapa kita harus diseret-seret kayak gitu sih? Image gue di depan cewek-cewek jadi jelek!” ucap Randy sambil merapikan rambutnya.
“Dasar borokokok, kamu mah masih aja mikirin cewek, saya aja gak punya cewek, tapi hepi-hepi aja,” timpal Deden dengan logat Sunda yang kental.
“Udah-udah! Gak usah didebatin lagi! Ngomong-ngomong, gimana kalo malam minggu ini, kita nginep di vila gue yang di puncak?”
“Duh, sorry ya Bon. Malam Minggu ini gue udah ada janji sama si Linda”, ucap Randy.
“Dasar emang maneh mah borokokok! Tong mikirkeun awewe wae atuh. Tadi si Linda udah bilang, malam Minggu nanti dia nggak bisa dateng. Jadi gak ada alasan kamu gak bisa ikut!”
♫♫♫
“Brrr….. dingin banget sih disini?”
“Nih, kopi buat lu. Di puncak kan emang dingin. Anak kecil aja tau, masa kamu enggak tau?”
“Iya, gue tau puncak tuh dingin, tapi biasanya kan gak sedingin ini. Tau gini mendingan gue nyari cewek di Bandung, daripada di sini, cewek gak ada, yang ada malahan kuntilanak. Eh, Bon ngomong-ngomong si Imam sama si Deden kemana sih?”
“Mereka lagi nyari makanan. Lu dari tadi belum makan kan? Gue juga belum makan nih, laper banget!”
“Iya, gue juga laper nih! Bon, ngapain sih lu akhir-akhir ini jadi sering kesini?”
“Gue nggak betah di rumah.” Jawab Boni singkat.
Kedua anak itu terdiam. Vila Boni yang sangat besar itu hening seketika. Hanya terdengar suara kobaran api di perapian. Boni bejalan ke arah foto keluarganya yang terpajang di dinding. Boni memperhatikan foto yang diambil tiga tahun lalu itu.
“Keluarga gue udah nggak seharmonis dulu lagi. Sejak nyokap gue meninggal dua tahun yang lalu, bokap gue gak pernah tidur di rumah lagi. Kalaupun pulang cuman buat ngasih gue duit buat SPP dan uang saku doang. Tapi Ran, gue tuh nggak butuh duit banyak, yang gue butuhin, kehangatan keluarga gue yang dulu. Adik gue juga akhir-akhir ini suka keluyuran gak tau kemana.” tutur Boni sambil memandangi foto itu.
“Adik lu kan masih SMP, cewek lagi. Lu gak takut dia kenapa-napa?” tanya Randy.
“Peduli amat! Dia maunya kayak gitu, ngapain gue larang?”
Randy menghela napas, dalam hati dia merasa kasihan kepada Boni. Kini Boni sudah kehilangan kehangatan keluarganya. Randy bersyukur keluarganya masih tetap harmonis sampai sekarang. Sayup-sayup dari luar terdengar suara deruman mobil.
“Eh, tuh mereka udah datang. Kebetulan gue udah laper banget nih,” Randy mengalihkan pembicaraan.
♫♫♫
Minggu sore Boni pulang ke rumahnya. Di garasi dia melihat mobil ayahnya terparkir disana. Boni tak peduli dan langsung masuk ke rumah.
“Darimana saja kamu?” tanya ayahnya.
“Apa peduli ayah? Biasanya Boni tidak pulang selama seminggu juga Ayah tak peduli.”
“Dasar anak durhaka! Sopan sedikit di depan ibu barumu!”
“Ibuku satu-satunya sudah meninggal!”
Boni agak kaget mendengar ucapan ayahnya itu. Di samping ayahnya ada seorang wanita cantik berusia 30-an. Rupanya selama ini ayah tinggal di rumah wanita ini. Boni langsung pergi lagi mengendarai mobilnya dengan kencang seperti orang kesetanan. Dia tak tahu akan kemana, pikirannya sedang kacau.
♫♫♫
Hampir dua bulan lamanya, Boni menyendiri. Di sekolah dia malas untuk berkomunikasi dengan orang lain, bahkan dengan sahabatnya sekalipun. Boni lebih memilih menghindari tatap muka dengan sahabatnya. Rupanya kehadiran ibu baru di keluarganya, membuatnya sangat terpukul. Setiap hari Boni pulang larut malam. Entah apa yang dilakukannya hingga larut malam. Ayahnya sangat marah atas kelakuan Boni selama ini.
“Boni! Sudah Ayah peringatkan, jangan pulang larut malam. Kamu ini masih anak SMA, nanti apa kata orang, melihat anak SMA keluyuran malam-malam begini,” ucap ayah Boni.
“Apa kata orang?!? Ayah masih mejaga gengsi ayah tanpa memperhatikan anaknya sendiri? Coba Ayah berkaca! Ayah macam apa yang meninggalkan anak-anaknya tanpa memperhatikan mereka selama dua tahun?”
“Dasar anak kurang ajar!” bentak ayah Boni sambil menampar Boni.
“Sudah Mas, sudah…….!” cegah Lastri, ibu tiri Boni.
“Kalau Ayah mau tampar Boni lagi, tampar aja Yah….. tampar aja anakmu tak pernah kau perhatikan ini!” Boni larut dalam emosi yang selama ini berusaha ia tahan.
“Pergi kamu, PERGI!!!!” bentak ayahnya lagi.
“Oke, kalau memang itu mau Ayah,” kata Boni sambil berjalan meninggalkan rumahnya.
♫♫♫
Boni duduk termenung sendiri di kantin sekolah. Masakan buatan Ibu kantin yang dulu paling disukainya, tidak dimakannya sama sekali. Seminggu yang lalu di pinggir jalan, Boni melihat Deden, sahabatnya sedang asyik nongkrong dengan anak-anak berandalan. Sahabatnya itu tampak sangat kurus. Boni heran, sejak kapan Deden bergaul dengan anak-anak nerandalan itu? Tapi Boni tak mau ambil pusing memikirkan itu. Tanpa Boni sadari, ada seorang pria yang mendekatinya.
“Kok melamun aja? Nggak dimakan tuh makanannya?” sapa pria itu.
“Eh….oh, ya….” Boni tersadar dari lamunannya dan kaget melihat pria di sampingnya adalah Pak Haryono, guru Fisikanya yang terkenal tidak banyak bicara.
“Bapak bisa menebak dari raut mukamu, kalau saat ini kamu sedang banyak pikiran. Bapak lihat akhir-akhir ini kamu dengan teman-temanmu tidak pernah bersama-sama lagi.”
“Sebenarnya sih begitu, Pak”
“Mau kau ceritakan masalahmu ke Bapak? Siapa tau Bapak bisa membantumu memecahkannya,” Pak Haryono menawarkan diri untuk menjadi tempat curhat Boni.
Boni pun mulai menceritakan masalahnya kepada Pak Haryono. Dari awal sampai akhir, tanpa ada yang terlewat sedikitpun. Entah mengapa, ketika Boni bercerita tentang masalahnya dia merasa sangat lega. Pak Haryono pun mendengarkan cerita Boni dengan seksama. Ternyata Pak Haryono sangat perhatian terhadap murid-muridnya.
“Begitulah, Pak. Masalah saya terlalu memusingkan bagi saya, sehingga selama ini saya lebih memilih menyendiri daripada berkumpul dengan teman-teman,” Boni mengakhiri ceritanya.
“Sikapmu yang lari dari masalah itu, menurut Bapak salah. Seharusnya kamu menyelesaikannya, bukan menghindarinya. Kamu juga jangan sampai mengorbankan persahabatanmu karena persoalan ini. Karena hanya sahabatmulah yang mengerti kamu dan pasti membantu kamu keluar dari persoalan yang kamu hadapi. Sekarang, coba kamu benahi kehidupanmu, apa salahnya kamu menerima ibu tirimu itu, siapa tahu dengan begitu kehangatan keluargamu kembali seperti dulu lagi,” tutur Pak Haryono dengan bijaksana.
“Terima kasih, Pak! Saya permisi dulu,” dalam seketika semangat Boni muncul lagi. Setelah ini dia berencana meminta maaf kepada ayahnya dan ibu tirinya. Dia juga tak sabar ingin berkumpul lagi dengan teman-temannya.
Kebetulan Boni bertemu dengan Imam, sahabat yang lama tidak ia temui. Tetapi aneh, Imam tampak terburu-buru dengan kepanikan terpancar di wajahnya.
“Hei, Mam! Apa kabar? Ngapain sih lu buru-buru amat?” sapa Boni.
“Bon, Nggak ada waktu buat basa-basi. Cepet ke rumah sakit! Deden lagi dalam keadaan koma!”
Jantung Boni berdegup kencang, dia langsung mengendarai mobilnya menuju ke rumah sakit tempat Deden dirawat.
♫♫♫
Dalam hati, Boni bertanya-tanya, ada apa sebenarnya? Ayah, Ibu, serta keluarga Deden dari Garut datang. Isak tangis terdengar dimana-mana.
“Mam, kasih tau gue yang sebenernya. Ada apa sih? Deden masih hidup kan? Jawab gue! Deden masih hidup, kan?” Boni memaksa Imam mengatakan bagaimana keadaan Deden saat ini.
“Bon……, Deden……mengidap HIV/AIDS…….. Deden masih dalam keadaan koma,” jawab Imam pelan.
“Mam, jangan bohong ke gue. Itu nggak bener kan? Seminggu yang lalu gue masih ngeliat dia lagi nongkrong sama……” Boni terdiam.
“…….Sama anak-anak berandalan itu kan? Mereka itulah yang ngejerumusin Deden jadi “pemakai”. Deden kena HIV/AIDS gara-gara jarum suntik yang mereka pakai bergantian”
“Ini semua gara-gara gue. Coba kalau gue nggak menghindari kalian, sekarang kita pasti masih bisa kumpul-kumpul kayak dulu lagi,” sesal Boni.
“Udah Bon, nggak usah nyalahin diri sendiri. Mungkin ini memang sudah kehendak Yang Maha Kuasa.”
Seorang suster menghampiri kami dan mengatakan bahwa Deden ingin bertemu kami menjelang akhir hidupnya. Kami berjalan memasuki ruang tempat Deden dirawat.
Tubuh Deden kurus sekali digerogoti penyakit yang dideritanya. Di sebelah Deden, ibunya menemaninya sambil menahan tangis.
“Bon…..Mam…. Saya seneng kita semua bisa kumpul lagi kayak dulu lagi. Oh, ya,mana si Randy?” sapa Deden dengan lemas.
“Tadi udah saya telepon Si Randy tadi masih di jalan ke sini,” kata Imam.
“Eh, sorry telat, tadi macet di jalan. Rumah si Linda jauh sih dari sini!” Randy datang dengan napas tersengal-sengal.
“Dasar borokokok….. kamu mah masih aja mikirin awewe,” timpal Deden dengan suara pelan.
Mereka semua saling berpegangan tangan, tanpa terasa air mata mereka mengalir. Rasa haru bercampur dengan duka. Persahabatan yang mereka jalin selama ini takkan pernah mereka lupakan.
“Saya pengen persahabatan kita terus berjalan walaupun saya duluan ninggalin kalian semua menghadap Allah SWT. Kalau persahabatan kita putus, saya nggak bakal maafin kalian,” ucap Deden dengan air mata yang terusmengalir.
“Iya, Den kita nggak akan memutuskan persahabatan kita, tapi lo jangan ngomong gitu dong, lu harus optimis, lu masih bisa sembuh!” ucap Boni sambil mengusap air matanya.
“Udah gak bisa Bon. Saya udah gak tahan lagi ngerasain sakit ini. Gimana?!? Friends Forever?”
“FRIENDS FOREVER!” ucap tiga sahabatnya bersamaan.
“Allahu akbar…… Allahu akbar……….HHhhhhhh……..” Deden meninggalkan dunia ini, menghadap Allah SWT.
“Innalillahi wa innailaihi raji’un.”
Tangan Deden yang sedang digenggam teman-temannya terasa semakin dingin. Deden meninggal dengan tenang. Isak tangis terdengar di mana-mana. Tiga sahabatnya sangat kehilangan salah satu sahabat terbaik mereka.Mereka semua mencoba memahami apakah arti dari sebuah persahabatan. Selalu bersama baik dalam suka maupun duka hingga ajal menjemput.
-The End-
Langganan:
Postingan (Atom)

