Arti Sebuah Persahabatan
Pria itu mulai berjalan mendekati. Bunyi derap langkahnya menggema di
seluruh gedung sekolah yang tua ini. Dari mimiknya, terpancar betapa
besar kemarahannya. Tanpa banyak bicara, dia menyeret keempat pemuda
yang berada di hadapannya menuju ke ruang BK. Pak Haryono orangnya
memang seperti itu, bisa dibilang dia adalah satu-satunya guru Fisika
yang tidak banyak bicara, tetapi sangat tegas dalam memberi sanksi bagi
para murid yang menentangnya.
Setelah menyeret keempat anak itu, Pak Haryono langsung meninggalkan
ruang BK. Keempat anak itu menghela napas, di hadapan mereka kini ada
seorang wanita separuh baya yang baik hati. Dia adalah Ibu Ratna, guru
BK mereka.
“Ya ampun! Ibu sudah tidak tahu harus ngomong apa lagi sama kalian.
Ini sudah yang kesembilan kalinya kalian berkeliaran ketika jam
pelajaran,” tutur Bu Ratna.
“Iya Bu, soalnya kan tanggung kalau sembilan kali, satu kali lagi
jadi sepuluh kali. Kan Ibu juga bilang kalau kita mau melakukan sesuatu
jangan tanggung-tanggung, harus dilakukan sampai selesai,” Boni, salah
satu dari keempat anak itu angkat bicara. Ketiga temannya
menganguk-angguk tanda setuju dengan apa yang dikatakan Boni.
Setelah dinasihati selama kurang lebih setengah jam, akhirnya Boni bersama ketiga temannya, Randy, Imam, dan Deden pergi meninggalkan
ruang BK menuju ke kantin. Kantin di sekolah mereka memang tidak besar
dan tidak begitu bagus, tetapi cukup bersih dan makanan yang disediakan
Ibu kantin adalah makanan yang sehat dan bergizi tinggi. Kantin ini
memang sudah menjadi rumah ke-2 bagi mereka berempat.
“Tadi saya kaget banget loh waktu Pak Haryono datang, terus nyeret kita seperti itu,” kata Imam.
“Ah, kalo gue sih gak kaget waktu Pak Haryono datang, itu sih udah
biasa! Tapi yang gue kesel, kenapa kita harus diseret-seret kayak gitu
sih? Image gue di depan cewek-cewek jadi jelek!” ucap Randy sambil
merapikan rambutnya.
“Dasar borokokok, kamu mah masih aja mikirin cewek, saya aja gak
punya cewek, tapi hepi-hepi aja,” timpal Deden dengan logat Sunda yang
kental.
“Udah-udah! Gak usah didebatin lagi! Ngomong-ngomong, gimana kalo malam minggu ini, kita nginep di vila gue yang di puncak?”
“Duh, sorry ya Bon. Malam Minggu ini gue udah ada janji sama si Linda”, ucap Randy.
“Dasar emang maneh mah borokokok! Tong mikirkeun awewe wae atuh. Tadi
si Linda udah bilang, malam Minggu nanti dia nggak bisa dateng. Jadi
gak ada alasan kamu gak bisa ikut!”
♫♫♫
“Brrr….. dingin banget sih disini?”
“Nih, kopi buat lu. Di puncak kan emang dingin. Anak kecil aja tau, masa kamu enggak tau?”
“Iya, gue tau puncak tuh dingin, tapi biasanya kan gak sedingin ini.
Tau gini mendingan gue nyari cewek di Bandung, daripada di sini, cewek
gak ada, yang ada malahan kuntilanak. Eh, Bon ngomong-ngomong si Imam
sama si Deden kemana sih?”
“Mereka lagi nyari makanan. Lu dari tadi belum makan kan? Gue juga belum makan nih, laper banget!”
“Iya, gue juga laper nih! Bon, ngapain sih lu akhir-akhir ini jadi sering kesini?”
“Gue nggak betah di rumah.” Jawab Boni singkat.
Kedua anak itu terdiam. Vila Boni yang sangat besar itu hening
seketika. Hanya terdengar suara kobaran api di perapian. Boni bejalan ke
arah foto keluarganya yang terpajang di dinding. Boni memperhatikan
foto yang diambil tiga tahun lalu itu.
“Keluarga gue udah nggak seharmonis dulu lagi. Sejak nyokap gue
meninggal dua tahun yang lalu, bokap gue gak pernah tidur di rumah lagi.
Kalaupun pulang cuman buat ngasih gue duit buat SPP dan uang saku
doang. Tapi Ran, gue tuh nggak butuh duit banyak, yang gue butuhin,
kehangatan keluarga gue yang dulu. Adik gue juga akhir-akhir ini suka
keluyuran gak tau kemana.” tutur Boni sambil memandangi foto itu.
“Adik lu kan masih SMP, cewek lagi. Lu gak takut dia kenapa-napa?” tanya Randy.
“Peduli amat! Dia maunya kayak gitu, ngapain gue larang?”
Randy menghela napas, dalam hati dia merasa kasihan kepada Boni. Kini
Boni sudah kehilangan kehangatan keluarganya. Randy bersyukur
keluarganya masih tetap harmonis sampai sekarang. Sayup-sayup dari luar
terdengar suara deruman mobil.
“Eh, tuh mereka udah datang. Kebetulan gue udah laper banget nih,” Randy mengalihkan pembicaraan.
♫♫♫
Minggu sore Boni pulang ke rumahnya. Di garasi dia melihat mobil
ayahnya terparkir disana. Boni tak peduli dan langsung masuk ke rumah.
“Darimana saja kamu?” tanya ayahnya.
“Apa peduli ayah? Biasanya Boni tidak pulang selama seminggu juga Ayah tak peduli.”
“Dasar anak durhaka! Sopan sedikit di depan ibu barumu!”
“Ibuku satu-satunya sudah meninggal!”
Boni agak kaget mendengar ucapan ayahnya itu. Di samping ayahnya ada
seorang wanita cantik berusia 30-an. Rupanya selama ini ayah tinggal di
rumah wanita ini. Boni langsung pergi lagi mengendarai mobilnya dengan
kencang seperti orang kesetanan. Dia tak tahu akan kemana, pikirannya
sedang kacau.
♫♫♫
Hampir dua bulan lamanya, Boni menyendiri. Di sekolah dia malas untuk
berkomunikasi dengan orang lain, bahkan dengan sahabatnya sekalipun.
Boni lebih memilih menghindari tatap muka dengan sahabatnya. Rupanya
kehadiran ibu baru di keluarganya, membuatnya sangat terpukul. Setiap
hari Boni pulang larut malam. Entah apa yang dilakukannya hingga larut
malam. Ayahnya sangat marah atas kelakuan Boni selama ini.
“Boni! Sudah Ayah peringatkan, jangan pulang larut malam. Kamu ini
masih anak SMA, nanti apa kata orang, melihat anak SMA keluyuran
malam-malam begini,” ucap ayah Boni.
“Apa kata orang?!? Ayah masih mejaga gengsi ayah tanpa memperhatikan
anaknya sendiri? Coba Ayah berkaca! Ayah macam apa yang meninggalkan
anak-anaknya tanpa memperhatikan mereka selama dua tahun?”
“Dasar anak kurang ajar!” bentak ayah Boni sambil menampar Boni.
“Sudah Mas, sudah…….!” cegah Lastri, ibu tiri Boni.
“Kalau Ayah mau tampar Boni lagi, tampar aja Yah….. tampar aja anakmu
tak pernah kau perhatikan ini!” Boni larut dalam emosi yang selama ini
berusaha ia tahan.
“Pergi kamu, PERGI!!!!” bentak ayahnya lagi.
“Oke, kalau memang itu mau Ayah,” kata Boni sambil berjalan meninggalkan rumahnya.
♫♫♫
Boni duduk termenung sendiri di kantin sekolah. Masakan buatan Ibu
kantin yang dulu paling disukainya, tidak dimakannya sama sekali.
Seminggu yang lalu di pinggir jalan, Boni melihat Deden, sahabatnya
sedang asyik nongkrong dengan anak-anak berandalan. Sahabatnya itu
tampak sangat kurus. Boni heran, sejak kapan Deden bergaul dengan
anak-anak nerandalan itu? Tapi Boni tak mau ambil pusing memikirkan itu.
Tanpa Boni sadari, ada seorang pria yang mendekatinya.
“Kok melamun aja? Nggak dimakan tuh makanannya?” sapa pria itu.
“Eh….oh, ya….” Boni tersadar dari lamunannya dan kaget melihat pria
di sampingnya adalah Pak Haryono, guru Fisikanya yang terkenal tidak
banyak bicara.
“Bapak bisa menebak dari raut mukamu, kalau saat ini kamu sedang
banyak pikiran. Bapak lihat akhir-akhir ini kamu dengan teman-temanmu
tidak pernah bersama-sama lagi.”
“Sebenarnya sih begitu, Pak”
“Mau kau ceritakan masalahmu ke Bapak? Siapa tau Bapak bisa
membantumu memecahkannya,” Pak Haryono menawarkan diri untuk menjadi
tempat curhat Boni.
Boni pun mulai menceritakan masalahnya kepada Pak Haryono. Dari awal
sampai akhir, tanpa ada yang terlewat sedikitpun. Entah mengapa, ketika
Boni bercerita tentang masalahnya dia merasa sangat lega. Pak Haryono
pun mendengarkan cerita Boni dengan seksama. Ternyata Pak Haryono sangat
perhatian terhadap murid-muridnya.
“Begitulah, Pak. Masalah saya terlalu memusingkan bagi saya, sehingga
selama ini saya lebih memilih menyendiri daripada berkumpul dengan
teman-teman,” Boni mengakhiri ceritanya.
“Sikapmu yang lari dari masalah itu, menurut Bapak salah. Seharusnya
kamu menyelesaikannya, bukan menghindarinya. Kamu juga jangan sampai
mengorbankan persahabatanmu karena persoalan ini. Karena hanya
sahabatmulah yang mengerti kamu dan pasti membantu kamu keluar dari
persoalan yang kamu hadapi. Sekarang, coba kamu benahi kehidupanmu, apa
salahnya kamu menerima ibu tirimu itu, siapa tahu dengan begitu
kehangatan keluargamu kembali seperti dulu lagi,” tutur Pak Haryono
dengan bijaksana.
“Terima kasih, Pak! Saya permisi dulu,” dalam seketika semangat Boni
muncul lagi. Setelah ini dia berencana meminta maaf kepada ayahnya dan
ibu tirinya. Dia juga tak sabar ingin berkumpul lagi dengan
teman-temannya.
Kebetulan Boni bertemu dengan Imam, sahabat yang lama tidak ia temui.
Tetapi aneh, Imam tampak terburu-buru dengan kepanikan terpancar di
wajahnya.
“Hei, Mam! Apa kabar? Ngapain sih lu buru-buru amat?” sapa Boni.
“Bon, Nggak ada waktu buat basa-basi. Cepet ke rumah sakit! Deden lagi dalam keadaan koma!”
Jantung Boni berdegup kencang, dia langsung mengendarai mobilnya menuju ke rumah sakit tempat Deden dirawat.
♫♫♫
Dalam hati, Boni bertanya-tanya, ada apa sebenarnya? Ayah, Ibu, serta
keluarga Deden dari Garut datang. Isak tangis terdengar dimana-mana.
“Mam, kasih tau gue yang sebenernya. Ada apa sih? Deden masih hidup
kan? Jawab gue! Deden masih hidup, kan?” Boni memaksa Imam mengatakan
bagaimana keadaan Deden saat ini.
“Bon……, Deden……mengidap HIV/AIDS…….. Deden masih dalam keadaan koma,” jawab Imam pelan.
“Mam, jangan bohong ke gue. Itu nggak bener kan? Seminggu yang lalu gue masih ngeliat dia lagi nongkrong sama……” Boni terdiam.
“…….Sama anak-anak berandalan itu kan? Mereka itulah yang
ngejerumusin Deden jadi “pemakai”. Deden kena HIV/AIDS gara-gara jarum
suntik yang mereka pakai bergantian”
“Ini semua gara-gara gue. Coba kalau gue nggak menghindari kalian,
sekarang kita pasti masih bisa kumpul-kumpul kayak dulu lagi,” sesal
Boni.
“Udah Bon, nggak usah nyalahin diri sendiri. Mungkin ini memang sudah kehendak Yang Maha Kuasa.”
Seorang suster menghampiri kami dan mengatakan bahwa Deden ingin
bertemu kami menjelang akhir hidupnya. Kami berjalan memasuki ruang
tempat Deden dirawat.
Tubuh Deden kurus sekali digerogoti penyakit yang dideritanya. Di sebelah Deden, ibunya menemaninya sambil menahan tangis.
“Bon…..Mam…. Saya seneng kita semua bisa kumpul lagi kayak dulu lagi. Oh, ya,mana si Randy?” sapa Deden dengan lemas.
“Tadi udah saya telepon Si Randy tadi masih di jalan ke sini,” kata Imam.
“Eh, sorry telat, tadi macet di jalan. Rumah si Linda jauh sih dari sini!” Randy datang dengan napas tersengal-sengal.
“Dasar borokokok….. kamu mah masih aja mikirin awewe,” timpal Deden dengan suara pelan.
Mereka semua saling berpegangan tangan, tanpa terasa air mata mereka
mengalir. Rasa haru bercampur dengan duka. Persahabatan yang mereka
jalin selama ini takkan pernah mereka lupakan.
“Saya pengen persahabatan kita terus berjalan walaupun saya duluan
ninggalin kalian semua menghadap Allah SWT. Kalau persahabatan kita
putus, saya nggak bakal maafin kalian,” ucap Deden dengan air mata yang
terusmengalir.
“Iya, Den kita nggak akan memutuskan persahabatan kita, tapi lo
jangan ngomong gitu dong, lu harus optimis, lu masih bisa sembuh!” ucap
Boni sambil mengusap air matanya.
“Udah gak bisa Bon. Saya udah gak tahan lagi ngerasain sakit ini. Gimana?!? Friends Forever?”
“FRIENDS FOREVER!” ucap tiga sahabatnya bersamaan.
“Allahu akbar…… Allahu akbar……….HHhhhhhh……..” Deden meninggalkan dunia ini, menghadap Allah SWT.
“Innalillahi wa innailaihi raji’un.”
Tangan Deden yang sedang digenggam teman-temannya terasa semakin
dingin. Deden meninggal dengan tenang. Isak tangis terdengar di
mana-mana. Tiga sahabatnya sangat kehilangan salah satu sahabat terbaik
mereka.Mereka semua mencoba memahami apakah arti dari sebuah
persahabatan. Selalu bersama baik dalam suka maupun duka hingga ajal
menjemput.
-The End-