Kamis, 08 Desember 2011

Arti Sebuah Persahabatan


Pria itu mulai berjalan mendekati. Bunyi derap langkahnya menggema di seluruh gedung sekolah yang tua ini. Dari mimiknya, terpancar betapa besar kemarahannya. Tanpa banyak bicara, dia menyeret keempat pemuda yang berada di hadapannya menuju ke ruang BK. Pak Haryono orangnya memang seperti itu, bisa dibilang dia adalah satu-satunya guru Fisika yang tidak banyak bicara, tetapi sangat tegas dalam memberi sanksi bagi para murid yang menentangnya.
Setelah menyeret keempat anak itu, Pak Haryono langsung meninggalkan ruang BK. Keempat anak itu menghela napas, di hadapan mereka kini ada seorang wanita separuh baya yang baik hati. Dia adalah Ibu Ratna, guru BK mereka.
“Ya ampun! Ibu sudah tidak tahu harus ngomong apa lagi sama kalian. Ini sudah yang kesembilan kalinya kalian berkeliaran ketika jam pelajaran,” tutur Bu Ratna.
“Iya Bu, soalnya kan tanggung  kalau sembilan kali, satu kali lagi jadi sepuluh kali. Kan Ibu juga bilang kalau kita mau melakukan sesuatu jangan tanggung-tanggung, harus dilakukan sampai selesai,” Boni, salah satu dari keempat anak itu angkat bicara. Ketiga temannya menganguk-angguk tanda setuju dengan apa yang dikatakan Boni.
Setelah dinasihati selama kurang lebih setengah jam, akhirnya Boni bersama ketiga temannya, Randy, Imam, dan Deden pergi meninggalkan ruang BK menuju ke kantin. Kantin di sekolah mereka memang tidak besar dan tidak begitu bagus, tetapi cukup bersih dan makanan yang disediakan Ibu kantin adalah makanan yang sehat dan bergizi tinggi. Kantin ini memang sudah menjadi rumah ke-2 bagi mereka berempat.
“Tadi saya kaget banget loh waktu Pak Haryono datang, terus nyeret kita seperti itu,” kata Imam.
“Ah, kalo gue sih gak kaget waktu Pak Haryono datang, itu sih udah biasa! Tapi yang gue kesel, kenapa kita harus diseret-seret kayak gitu sih? Image gue di depan cewek-cewek jadi jelek!” ucap Randy sambil merapikan rambutnya.
“Dasar borokokok, kamu mah masih aja mikirin cewek, saya aja gak punya cewek, tapi hepi-hepi aja,” timpal Deden dengan logat Sunda yang kental.
“Udah-udah! Gak usah didebatin lagi! Ngomong-ngomong, gimana kalo malam minggu ini, kita nginep di vila gue yang di puncak?”
“Duh, sorry ya Bon. Malam Minggu ini gue udah ada janji sama si Linda”, ucap Randy.
“Dasar emang maneh mah borokokok! Tong mikirkeun awewe wae atuh. Tadi si Linda udah bilang, malam Minggu nanti dia nggak bisa dateng. Jadi gak ada alasan kamu gak bisa ikut!”
♫♫♫
“Brrr….. dingin banget sih disini?”
“Nih, kopi buat lu. Di puncak kan emang dingin. Anak kecil aja tau, masa kamu enggak tau?”
“Iya, gue tau puncak tuh dingin, tapi biasanya kan gak sedingin ini. Tau gini mendingan gue nyari cewek di Bandung, daripada di sini, cewek gak ada, yang ada malahan kuntilanak. Eh, Bon ngomong-ngomong si Imam sama si Deden kemana sih?”
“Mereka lagi nyari makanan. Lu dari tadi belum makan kan? Gue juga belum makan nih, laper banget!”
“Iya, gue juga laper nih! Bon, ngapain sih lu akhir-akhir ini jadi sering kesini?”
“Gue nggak betah di rumah.” Jawab Boni singkat.
Kedua anak itu terdiam. Vila Boni yang sangat besar itu hening seketika. Hanya terdengar suara kobaran api di perapian. Boni bejalan ke arah foto keluarganya yang terpajang di dinding. Boni memperhatikan foto yang diambil tiga tahun lalu itu.
“Keluarga gue udah nggak seharmonis dulu lagi. Sejak nyokap gue meninggal dua tahun yang lalu, bokap gue gak pernah tidur di rumah lagi. Kalaupun pulang cuman buat ngasih gue duit buat SPP dan uang saku doang. Tapi Ran, gue tuh nggak butuh duit banyak, yang gue butuhin, kehangatan keluarga gue yang dulu. Adik gue juga akhir-akhir ini suka keluyuran gak tau kemana.” tutur Boni sambil memandangi foto itu.
“Adik lu kan masih SMP, cewek lagi. Lu gak takut dia kenapa-napa?” tanya Randy.
“Peduli amat! Dia maunya kayak gitu, ngapain gue larang?”
Randy menghela napas, dalam hati dia merasa kasihan kepada Boni. Kini Boni sudah kehilangan kehangatan keluarganya. Randy bersyukur keluarganya masih tetap harmonis sampai sekarang. Sayup-sayup dari luar terdengar suara deruman mobil.
“Eh, tuh mereka udah datang. Kebetulan gue udah laper banget nih,” Randy mengalihkan pembicaraan.
♫♫♫
Minggu sore Boni pulang ke rumahnya. Di garasi dia melihat mobil ayahnya terparkir disana. Boni tak peduli dan langsung masuk ke rumah.
“Darimana saja kamu?” tanya ayahnya.
“Apa peduli ayah? Biasanya Boni tidak pulang selama seminggu juga Ayah tak peduli.”
“Dasar anak durhaka! Sopan sedikit di depan ibu barumu!”
“Ibuku satu-satunya sudah meninggal!”
Boni agak kaget mendengar ucapan ayahnya itu. Di samping ayahnya ada seorang wanita cantik berusia 30-an. Rupanya selama ini ayah tinggal di rumah wanita ini. Boni langsung pergi lagi mengendarai mobilnya dengan kencang seperti orang kesetanan. Dia tak tahu akan kemana, pikirannya sedang kacau.
♫♫♫
Hampir dua bulan lamanya, Boni menyendiri. Di sekolah dia malas untuk berkomunikasi dengan orang lain, bahkan dengan sahabatnya sekalipun. Boni lebih memilih menghindari tatap muka dengan sahabatnya. Rupanya kehadiran ibu baru di keluarganya, membuatnya sangat terpukul. Setiap hari Boni pulang larut malam. Entah apa yang dilakukannya hingga larut malam. Ayahnya sangat marah atas kelakuan Boni selama ini.
“Boni! Sudah Ayah peringatkan, jangan pulang larut malam. Kamu ini masih anak SMA, nanti apa kata orang, melihat anak SMA keluyuran malam-malam begini,” ucap ayah Boni.
“Apa kata orang?!? Ayah masih mejaga gengsi ayah tanpa memperhatikan anaknya sendiri? Coba Ayah berkaca! Ayah macam apa yang meninggalkan anak-anaknya tanpa memperhatikan mereka selama dua tahun?”
“Dasar anak kurang ajar!” bentak ayah Boni sambil menampar Boni.
“Sudah Mas, sudah…….!” cegah Lastri, ibu tiri Boni.
“Kalau Ayah mau tampar Boni lagi, tampar aja Yah….. tampar aja anakmu tak pernah kau perhatikan ini!” Boni larut dalam emosi yang selama ini berusaha ia tahan.
“Pergi kamu, PERGI!!!!” bentak ayahnya lagi.
“Oke, kalau memang itu mau Ayah,” kata Boni sambil berjalan meninggalkan rumahnya.
♫♫♫
Boni duduk termenung sendiri di kantin sekolah. Masakan buatan Ibu kantin yang dulu paling disukainya, tidak dimakannya sama sekali. Seminggu yang lalu di pinggir jalan, Boni melihat Deden, sahabatnya sedang asyik nongkrong dengan anak-anak berandalan. Sahabatnya itu tampak sangat kurus. Boni heran, sejak kapan Deden bergaul dengan anak-anak nerandalan itu? Tapi Boni tak mau ambil pusing memikirkan itu. Tanpa Boni sadari, ada seorang pria yang mendekatinya.
“Kok melamun aja? Nggak dimakan tuh makanannya?” sapa pria itu.
“Eh….oh, ya….” Boni tersadar dari lamunannya dan kaget melihat pria di sampingnya adalah Pak Haryono, guru Fisikanya yang terkenal tidak banyak bicara.
“Bapak bisa menebak dari raut mukamu, kalau saat ini kamu sedang banyak pikiran. Bapak lihat akhir-akhir ini kamu dengan teman-temanmu tidak pernah bersama-sama lagi.”
“Sebenarnya sih begitu, Pak”
“Mau kau ceritakan masalahmu ke Bapak? Siapa tau Bapak bisa membantumu memecahkannya,” Pak Haryono menawarkan diri untuk menjadi tempat curhat Boni.
Boni pun mulai menceritakan masalahnya kepada Pak Haryono. Dari awal sampai akhir, tanpa ada yang terlewat sedikitpun. Entah mengapa, ketika Boni bercerita tentang masalahnya dia merasa sangat lega. Pak Haryono pun mendengarkan cerita Boni dengan seksama. Ternyata Pak Haryono sangat perhatian terhadap murid-muridnya.
“Begitulah, Pak. Masalah saya terlalu memusingkan bagi saya, sehingga selama ini saya lebih memilih menyendiri daripada berkumpul dengan teman-teman,” Boni mengakhiri ceritanya.
“Sikapmu yang lari dari masalah itu, menurut Bapak salah. Seharusnya kamu menyelesaikannya, bukan menghindarinya. Kamu juga jangan sampai mengorbankan persahabatanmu karena persoalan ini. Karena hanya sahabatmulah yang mengerti kamu dan pasti membantu kamu keluar dari persoalan yang kamu hadapi. Sekarang, coba kamu benahi kehidupanmu, apa salahnya kamu menerima ibu tirimu itu, siapa tahu dengan begitu kehangatan keluargamu kembali seperti dulu lagi,” tutur Pak Haryono dengan bijaksana.
“Terima kasih, Pak! Saya permisi dulu,” dalam seketika semangat Boni muncul lagi. Setelah ini dia berencana meminta maaf kepada ayahnya dan ibu tirinya. Dia juga tak sabar ingin berkumpul lagi dengan teman-temannya.
Kebetulan Boni bertemu dengan Imam, sahabat yang lama tidak ia temui. Tetapi aneh, Imam tampak terburu-buru dengan kepanikan terpancar di wajahnya.
“Hei, Mam! Apa kabar? Ngapain sih lu buru-buru amat?” sapa Boni.
“Bon, Nggak ada waktu buat basa-basi. Cepet ke rumah sakit! Deden lagi dalam keadaan koma!”
Jantung Boni berdegup kencang, dia langsung mengendarai mobilnya menuju ke rumah sakit tempat Deden dirawat.
♫♫♫
Dalam hati, Boni bertanya-tanya, ada apa sebenarnya? Ayah, Ibu, serta keluarga Deden dari Garut datang. Isak tangis terdengar dimana-mana.
“Mam, kasih tau gue yang sebenernya. Ada apa sih? Deden masih hidup kan? Jawab gue! Deden masih hidup, kan?” Boni memaksa Imam mengatakan bagaimana keadaan Deden saat ini.
“Bon……, Deden……mengidap HIV/AIDS…….. Deden masih dalam keadaan koma,” jawab Imam pelan.
“Mam, jangan bohong ke gue. Itu nggak bener kan? Seminggu yang lalu gue masih ngeliat dia lagi nongkrong sama……” Boni terdiam.
“…….Sama anak-anak berandalan itu kan? Mereka itulah yang ngejerumusin Deden jadi “pemakai”. Deden kena  HIV/AIDS gara-gara jarum suntik yang mereka pakai bergantian”
“Ini semua gara-gara gue. Coba kalau gue nggak menghindari kalian, sekarang kita pasti masih bisa kumpul-kumpul kayak dulu lagi,” sesal Boni.
“Udah Bon, nggak usah nyalahin diri sendiri. Mungkin ini memang sudah kehendak Yang Maha Kuasa.”
Seorang suster menghampiri kami dan mengatakan bahwa Deden ingin bertemu kami menjelang akhir hidupnya. Kami berjalan memasuki ruang tempat Deden dirawat.
Tubuh Deden kurus sekali digerogoti penyakit yang dideritanya. Di sebelah Deden, ibunya menemaninya sambil menahan tangis.
“Bon…..Mam…. Saya seneng kita semua bisa kumpul lagi kayak dulu lagi. Oh, ya,mana si Randy?” sapa Deden dengan lemas.
“Tadi udah saya telepon Si Randy tadi masih di jalan ke sini,” kata Imam.
“Eh, sorry telat, tadi macet di jalan. Rumah si Linda jauh sih dari sini!” Randy datang dengan napas tersengal-sengal.
“Dasar borokokok….. kamu mah masih aja mikirin awewe,” timpal Deden dengan suara pelan.
Mereka semua saling berpegangan tangan, tanpa terasa air mata mereka mengalir. Rasa haru bercampur dengan duka. Persahabatan yang mereka jalin selama ini takkan pernah mereka lupakan.
“Saya pengen persahabatan kita terus berjalan walaupun saya duluan ninggalin kalian semua menghadap Allah SWT. Kalau persahabatan kita putus, saya nggak bakal maafin kalian,” ucap Deden dengan air mata yang terusmengalir.
“Iya, Den kita nggak akan memutuskan persahabatan kita, tapi lo jangan ngomong gitu dong, lu harus optimis, lu masih bisa sembuh!” ucap Boni sambil mengusap air matanya.
“Udah gak bisa Bon. Saya udah gak tahan lagi ngerasain sakit ini. Gimana?!? Friends Forever?”
“FRIENDS FOREVER!” ucap tiga sahabatnya bersamaan.
“Allahu akbar…… Allahu akbar……….HHhhhhhh……..” Deden meninggalkan dunia ini, menghadap Allah SWT.
“Innalillahi wa innailaihi raji’un.”
Tangan Deden yang sedang digenggam teman-temannya terasa semakin dingin. Deden meninggal dengan tenang. Isak tangis terdengar di mana-mana. Tiga sahabatnya sangat kehilangan salah satu sahabat terbaik mereka.Mereka semua mencoba memahami apakah arti dari sebuah persahabatan. Selalu bersama baik dalam suka maupun duka hingga ajal menjemput.
-The End-